Review Razer Phone

razer phone gaming review

Razer Phone Indonesia

Review Razer Phone – Razer Phone merupakan smartphone gaming yang dikeluarkan oleh pabrikan razer, yang memang selalu menelurkan produk yang ditujukan untuk para gamers, hal ini yang membuat, razer phone, sangat direkomendasikan untuk anda pecinta gaming mobile.

Mungkin karena malas atau tidak sempat mengembangkan UI sendiri, Razer akhirnya berpartner dengan Nova untuk pakai Nova Launcher di Razer Phone. Buat kami, ini adalah kabar yang bagus karena merupakan pilihan yang tepat.

Rasanya sangat jarang pengguna yang tidak suka Nova Launcher. UI ini menawarkan experience dan juga tampilan mirip stock Android, tapi dengan kustomisasi lebih banyak. Bisa ganti warna background, ganti ukuran font, ganti ikon, dan lain-lain.

Razer juga menyediakan cukup banyak tema berbau game yang bisa di-download gratis setelah membuat akun Razer terlebih dulu. Hal lain yang kami suka, smartphone ini tidak bawa bloatware sama sekali.

Dan karena ini adalah smartphone gaming, jadi kita bakal menemukan satu fitur esensial, yaitu Game Booster yang ada di menu settings maupun App Drawer. Fitur ini punya built-in mode dont disturb biar kita tidak terganggu telepon atau notif masuk saat main game.

Ada juga opsi untuk mengatur konfigurasi hardware saat nge-game. Bisa diatur secara default untuk semua game atau diatur per judul game. Opsi yang bisa kita ubah mulai dari resolusi layar, clockspeed CPU, frame rate, plus satu lagi anti aliasing untuk makin menghaluskan grafis.

Karena bawa predikat smartphone gaming, jadi sudah pasti Razer membekali spesifikasi monster di smartphone ini. CPU-nya pakai Snapdragon 835, RAM 8 GB, storage cuma 64 GB, dan baterai 4.000 mAh. Sekilas speknya mirip lagship lain, contohnya OnePlus 5T yang tentunya juga ngacir buat gaming. So, hal apa yang bikin beda?

Jadi yang bikin Razer Phone disebut smartphone gaming, yang pertama adalah layarnya. Ini adalah smartphone pertama di dunia dengan layar IGZO Quad HD yang punya refresh rate 120 Hz, bukan standar 60 Hz. Kalau di PC mirip teknologi NVIDIA G-Sync atau AMD Freesync.

Manfaatnya bisa kita rasakan saat scrolling layarnya, luar biasa smooth seperti halnya iPad Pro. Buat main game juga terasa sangat smooth. Tapi sayangnya tidak bisa dilihat dan dirasakan lewat lensa kamera. Harus coba sendiri secara langsung.

Desain Razer Phone sangat identik dengan Nextbit Robin. Tidak heran karena smartphone ini memang buatan Nextbit yang sudah diakuisisi Razer. Tak perlu basa-basi, kami bilang smartphone ini enak di mata, tapi tidak enak di tangan.

Razer Phone adalah smartphone yang cowok banget. Desainnya kotak kaku, warnanya hitam doff, dimensinya besar, agak tebal, dan sudut-sudutnya lancip. Ya, jadi kalau hanya dilihat saja, smartphone ini terasa elite banget. Tapi saat dipegang, jadi bikin repot.

Alasannya seperti yang sudah kami sebutkan tadi. Smartphone ini punya layar 5,7 inci 16:9 dengan bezel atas dan bawah yang lumayan. Otomatis bikin dimensinya besar. Bodinya juga tebal mirip Sony Xperia. Dan yang paling parahnya adalah bodinya super licin dan sudut-sudutnya menusuk tangan.

Bagian yang licin bukan cuma belakangnya saja, tapi sisi-sisinya juga sangat licin. Bikin ngeri jatuh. Jadinya agak aneh, dengan sebutan smartphone gaming, smartphone ini malah kurang enak buat dipakai nge-game lama-lama. Waktu 10-15 menit rasanya sudah cukup untuk merasakan sakit di tangan.

Penderitaannya belum berhenti sampai di situ. Biasanya kami selalu pakai casing agar grip-nya jadi lebih enak. Dan karena Razer adalah pendatang baru, jadi mencari casing-nya sangat sulit. Sebenernya ada casing resmi yang dijual terpisah. Tapi tetap saja jarang yang jual plus harganya di atas Rp500 ribu.

Sementara buat pemakaian sehari-hari, hal lain yang bikin kurang nyaman adalah tombol fisiknya. Tombol power dan volume terlalu ke bawah. Yang lebih tidak nyaman adalah tombol power-nya yang flat dan susah diraba. Jadi kalau belum biasa, kita harus mencari dulu dimana posisinya. Oh ya, tombol ini juga berfungsi sebagai sensor fingerprint, mirip Sony Xperia.

Sekadar info, Razer Phone tidak punya sertifikat tahan air dan debu. Dan smartphone ini juga tidak dilengkapi jack audio karena area buat jack audio ini diisi baterai besar plus sistem pendingin. Razer juga memberikan bonus adapter audio dengan DAC 24-bit kalau mau pakai earphone eksternal.

Di antara segala hal yang bikin tidak nyaman, untungnya masih ada satu hal yang menyenangkan, yaitu dua grill speaker yang langsung nembak ke telinga, ada di atas dan bawah. Posisinya aman, jadi tidak akan ketutupan tangan kita.

Jangan terlalu mengharapkan kamera superior di smartphone gaming. Walaupun di atas kertas speknya kekinian dengan dual-camera 12 MP f/1.8 untuk lensa utama dan f/2.6 untuk lensa telephoto, tapi fitur dan kualitasnya sangat standar. Kameranya ini punya PDAF, tapi tanpa OIS.

Aplikasi kamera yang dipakai di Razer Phone adalah Google Camera. Tidak ada pilihan mode selain auto. Bahkan mode portrait yang biasa ada di smartphone dual-camera juga belum ada. Benar-benar minim opsi.

Tapi katanya sih mode portrait atau bokeh saat ini sedang digarap dan bakal muncul lewat upgrade OS Android Oreo di kuartal pertama 2018 nanti. Jadi dengan kata lain, dual-camera Razer Phone masih belum berguna untuk saat ini.

Buat selfie, kamera depannya beresolusi 8 MP f/2.0 fixed focus dan tidak ada mode beautify. Untuk hasil jepretannya kurang lebih sama seperti kamera belakangnya. Standar buat kategori smartphone flagship.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *